Minggu, 09 Desember 2012




                               Sebuah Mimpi
                     di Balik Mentari

Awal Persahabatan
       “Lisa sayang...” sayup-sayup suara seorang wanita memanggil seorang anaknya yang bernama Lisa dengan diiringi suara yang ketukkan pintu, “tok.. tok.. Lisa”. Dengan mata yang masih mengantuk, gadis berusia empatbelas tahun itu pun menjawab suara yang sangat dia kenal itu, “iya ma.. Lisa bangun”. Gadis itu lalu tersadar ternyata mentari sudah tinggi dan sinar mentari pun telah mengintip dari celah gorden kamarnya. Dipandanginya sebuah cermin dihadapannya, disana kembarannya terlihat sangat berantakan. Rambut yang acak-acakan memperlihatkan betapa joroknya dirinya. Tak sadar ia terbawa suasana, hingga mamanya kembali memanggil, “Lisa.. ini sudah jam berapa sayang ? kamu mau sekolah gak ?”. Ketika  Lisa melihat jam wakker ternyata hari itu sudah ke jam 6.45, bergegas dia mengganti pakaiannya tanpa sempat membersihkan badan yang beraroma kurang sedap itu.
          Lisa memang seorang gadis yang selalu ceria dan manja. Ia di temani dengan seorang saudara laki-laki yang bernama Panji. Panji dan Lisa sangat berbeda, Panji adalah seorang anak laki-laki yang cerdas dan mandiri. Dan dia pun baru saja masuk ke sebuah perguruan tianggi yang sangat terkemuka di kota tempat meraka tinggal, yaitu kota Bandung.
          Pada pagi hari itu, di sebuah meja makan yang cukup besar dengan dihiasi beberapa piring roti dan beberapa gelas susu, Panji sedang asyik berbincang-bincang dengan mamanya sembari menyatap sarapan pagi mereka. Lisa pun datang, ia mengambil roti dan segelas susu lalu ia berlari ke arah sebuah mobil di lahaman depan rumahnya dimana  papanya sudah menunggunya untuk pergi ke sekolah.
“Mama.. Lisa pergi ya”  teriaknya,
“hati-hati Lisa..”  sahut mamanya,
Ketika matanya melihat ke arah mamanya dan dia tidak tau kakinya melangkah kemana, saat itulah dia menginjak sebuah bola milik saudarnya dan dia pun terjatuh seperti bayi yang baru belajar berjalan. Seketika roti dan susu yang awalanya ia pegang pun melayang ke atas kepalanya dan rok SMA-nya.  Suasana rumah yang semula cukup tenang pun menjadi ramai dengan suara Panji dan kedua orang tua mereka yang tertawa melihat tingkah Lisa.
          “basah, tapi aku sudah terlambat” pikirk Lisa. Tanpa berpikir lama disingkirkannya roti dan gelas yang masih tercecer itu, lalu dengan rasa kesal bercampur malu ia langsung masuk ke dalam mobil.
          “papa.. ayo pergi Lisa sudah telat nih..”, ujar sambil menahan malu “hahaha.. Lisa... Lisa”  sambut Papanya.
          Mereka pun pergi dengan sedikit tawa yang masih tersisa di raut wajah papanya Lisa. Senyum bahagia dari Panji dan mamanya mengiringi kepergian mereka.
          Setibanya di sekolah, gerbang sekolahnya pun sudah hampir ditutup dan para senior dengan raut wajah seperti hantu yang menakutkan juga sudah berdiri dipinggir gerbang. Lisa pun turun dan berjalan kearah gerbang sekolahnya, baru satu langkah dia melewati gerbang seorang senior memanggilnya, “hey.. anak baru”. Lisa terkejut, dan masa orientasi siswa baru SMA Chandra Karya  hari terakhir pun dimulai.
          Pada siang harinya, seluruh siswa baru SMA Chandra Karya termasuk Lisa dibariskan di tengah lapangan upacara. Sinar mentari yang terik di siang itu begitu membakar kulit Lisa yang sudah terlihat matang. Tiba-tiba seorang senior yang memiliki tubuh tinggi semampai dan terkenal sebagai primadona SMA Chandar Karya mendatangi barisan kelas Lisa.
“gue Merta, dan gue yang akan jadi PJ (Pembimbing Jamaah) kelas kalian”, ujarnya kepada Lisa dan teman-temannya.
Kak Merta memang siswi paling cantik di antara senior-senior yang lain, tetapi dia jugalah senior yang terbawel.  “hmm.. bosen banget sih hari ini, tadi pagi telat.. eh sekarang PJ-nya bawel pula..” keluh Lisa. Seorang gadis berparas oriental dan bertubuh sedikit mungil melihat ke arah Lisa, gadis itu bernama Kimsi Meilan. Kimsi tersenyum lalu berkata “kamu benar, PJ kita bawel.. hehehe”. Mereka pun tidak mengihiraukan apa yang terjadi di sekeliling mereka, mereka sibuk sendiri dengan percakapan yang mengasyikkan bagi mereka itu.
          Ternyata percakapan mereka berdua diperhatikan oleh kak Merta. Dia melihat dengan tatapan sinis seorang pendengki,
lalu dia pun memanggil mereka, “Lisa ! Kimsi ! kesini kalian”.
“hee.. iya kak”, jawab Kimsi
“enak ya ngobrolnya ? coba ulang ap yang kalian bicarakan tadi !”, pinta kak Merta
“yang mana kak ?”, kata Lisa
“alah.. kalian ini, baru masuk sudah banyak tingkah pula.. sekarang kalian puterin lapangan basket belakang, 10 puteran”, ujar kak Merta
“iya kak..”, sahut mereka bersama-sama
Mereka pun langsung ke lapangan basket yang memiliki ukuran cukup luas, hukuman yang di berikan kak Merta tidak bisa membuat mereka mersa bersalah atau pun menyesal. Kedua gadis itu pun berlari memutari lapangan basket sembari menertawakan wajah kak Merta yang memerah ketika menegur  mereka di lapangan upacara.
“hey Amoy”, kata Lisa kepada Kimsi
“nama aku Kimsi, Lisa.. bukan Amoy..” sahut Kimsi sembari memajukan bibirnya yang memebuat kedua matanya yang sipit itu semakin hilang.
“hahaha.. Iya Kimsi, maaf... aku  tadi bercanda kok..”, kata Lisa sambil tersenyum. Mereka terus bercanda dan berlari sampai hukuman mereka selesai.
          Hari itulah persahabatan Lisa dan Kimsi dimulai. Persahabantan yang semakin hari semakin karib. Persahabatan mereka yang kecil namun berarti, sebuah persahabatan yang akan selalu mereka jaga bersama.



“dairyku sayang”

“hari ini ku temukan seorang sahabat baru”
“namanya Kimsi Meilan, aku pun suka bersahabat dengannya”
“lalu ku katakan kepadanya”

“Wahai sahabat ! genggamlah tanganku.. dan berjanjilah”
“jangan lepaskan tanganmu dari tanganku”
“sebelum aku melepaskan tanganku dari tanganmu”
                                               

(13 juli 2008, Lisa’s dairy)

1 komentar:

  1. smoga saya bisa menyelesaikan novel ini..
    dan teman" yang baca bisa ter insfirasi ^^

    BalasHapus