Sebuah Mimpi
di Balik Mentari
Awal Persahabatan
“Lisa sayang...”
sayup-sayup suara seorang wanita memanggil seorang anaknya yang bernama Lisa
dengan diiringi suara yang ketukkan pintu, “tok..
tok.. Lisa”. Dengan mata yang masih mengantuk, gadis berusia empatbelas
tahun itu pun menjawab suara yang sangat dia kenal itu, “iya ma.. Lisa bangun”. Gadis itu lalu tersadar ternyata mentari
sudah tinggi dan sinar mentari pun telah mengintip dari celah gorden kamarnya.
Dipandanginya sebuah cermin dihadapannya, disana kembarannya terlihat sangat
berantakan. Rambut yang acak-acakan memperlihatkan betapa joroknya dirinya. Tak
sadar ia terbawa suasana, hingga mamanya kembali memanggil, “Lisa.. ini sudah jam berapa sayang ? kamu
mau sekolah gak ?”. Ketika Lisa melihat
jam wakker ternyata hari itu sudah ke
jam 6.45, bergegas dia mengganti pakaiannya tanpa sempat membersihkan badan
yang beraroma kurang sedap itu.
Lisa memang seorang gadis yang selalu
ceria dan manja. Ia di temani dengan seorang saudara laki-laki yang bernama Panji.
Panji dan Lisa sangat berbeda, Panji adalah seorang anak laki-laki yang cerdas
dan mandiri. Dan dia pun baru saja masuk ke sebuah perguruan tianggi yang
sangat terkemuka di kota tempat meraka tinggal, yaitu kota Bandung.
Pada pagi hari itu, di sebuah meja
makan yang cukup besar dengan dihiasi beberapa piring roti dan beberapa gelas
susu, Panji sedang asyik berbincang-bincang dengan mamanya sembari menyatap
sarapan pagi mereka. Lisa pun datang, ia mengambil roti dan segelas susu lalu
ia berlari ke arah sebuah mobil di lahaman depan rumahnya dimana papanya sudah menunggunya untuk pergi ke
sekolah.
“Mama.. Lisa pergi ya” teriaknya,
“hati-hati Lisa..” sahut mamanya,
Ketika
matanya melihat ke arah mamanya dan dia tidak tau kakinya melangkah kemana,
saat itulah dia menginjak sebuah bola milik saudarnya dan dia pun terjatuh
seperti bayi yang baru belajar berjalan. Seketika roti dan susu yang awalanya
ia pegang pun melayang ke atas kepalanya dan rok SMA-nya. Suasana rumah yang semula cukup tenang pun
menjadi ramai dengan suara Panji dan kedua orang tua mereka yang tertawa
melihat tingkah Lisa.
“basah,
tapi aku sudah terlambat” pikirk Lisa. Tanpa berpikir lama disingkirkannya
roti dan gelas yang masih tercecer itu, lalu dengan rasa kesal bercampur malu ia
langsung masuk ke dalam mobil.
“papa..
ayo pergi Lisa sudah telat nih..”, ujar sambil menahan malu “hahaha.. Lisa... Lisa” sambut Papanya.
Mereka pun pergi dengan sedikit tawa
yang masih tersisa di raut wajah papanya Lisa. Senyum bahagia dari Panji dan
mamanya mengiringi kepergian mereka.
Setibanya di sekolah, gerbang sekolahnya
pun sudah hampir ditutup dan para senior dengan raut wajah seperti hantu yang
menakutkan juga sudah berdiri dipinggir gerbang. Lisa pun turun dan berjalan
kearah gerbang sekolahnya, baru satu langkah dia melewati gerbang seorang
senior memanggilnya, “hey.. anak baru”.
Lisa terkejut, dan masa orientasi siswa
baru SMA Chandra Karya hari terakhir pun
dimulai.
Pada siang harinya, seluruh siswa baru
SMA Chandra Karya termasuk Lisa dibariskan di tengah lapangan upacara. Sinar
mentari yang terik di siang itu begitu membakar kulit Lisa yang sudah terlihat
matang. Tiba-tiba seorang senior yang memiliki tubuh tinggi semampai dan
terkenal sebagai primadona SMA
Chandar Karya mendatangi barisan kelas Lisa.
“gue Merta, dan gue yang akan jadi PJ (Pembimbing Jamaah) kelas kalian”, ujarnya kepada Lisa dan teman-temannya.
Kak
Merta memang siswi paling cantik di antara senior-senior yang lain, tetapi dia
jugalah senior yang terbawel. “hmm.. bosen banget sih hari ini, tadi pagi
telat.. eh sekarang PJ-nya bawel pula..” keluh Lisa. Seorang gadis berparas
oriental dan bertubuh sedikit mungil
melihat ke arah Lisa, gadis itu bernama Kimsi Meilan. Kimsi tersenyum lalu
berkata “kamu benar, PJ kita bawel..
hehehe”. Mereka pun tidak mengihiraukan apa yang terjadi di sekeliling
mereka, mereka sibuk sendiri dengan percakapan yang mengasyikkan bagi mereka
itu.
Ternyata percakapan mereka berdua
diperhatikan oleh kak Merta. Dia melihat dengan tatapan sinis seorang
pendengki,
lalu dia
pun memanggil mereka, “Lisa ! Kimsi !
kesini kalian”.
“hee.. iya kak”, jawab
Kimsi
“enak ya ngobrolnya ? coba ulang ap yang
kalian bicarakan tadi !”, pinta kak Merta
“yang mana kak ?”, kata
Lisa
“alah.. kalian ini, baru masuk sudah banyak
tingkah pula.. sekarang kalian puterin lapangan basket belakang, 10 puteran”, ujar kak
Merta
“iya kak..”, sahut
mereka bersama-sama
Mereka
pun langsung ke lapangan basket yang memiliki ukuran cukup luas, hukuman yang
di berikan kak Merta tidak bisa membuat mereka mersa bersalah atau pun menyesal.
Kedua gadis itu pun berlari memutari lapangan basket sembari menertawakan wajah
kak Merta yang memerah ketika menegur
mereka di lapangan upacara.
“hey Amoy”, kata Lisa
kepada Kimsi
“nama aku Kimsi, Lisa.. bukan
Amoy..” sahut Kimsi sembari memajukan bibirnya yang memebuat kedua
matanya yang sipit itu semakin hilang.
“hahaha.. Iya Kimsi, maaf...
aku tadi bercanda kok..”, kata Lisa
sambil tersenyum. Mereka terus bercanda dan berlari sampai hukuman mereka
selesai.
Hari itulah persahabatan Lisa dan
Kimsi dimulai. Persahabantan yang semakin hari semakin karib. Persahabatan
mereka yang kecil namun berarti, sebuah persahabatan yang akan selalu mereka
jaga bersama.
“dairyku sayang”
“hari ini ku temukan seorang sahabat baru”
“namanya Kimsi Meilan, aku pun suka bersahabat dengannya”
“lalu ku katakan kepadanya”
“Wahai
sahabat ! genggamlah tanganku.. dan berjanjilah”
“jangan lepaskan tanganmu dari tanganku”
“sebelum aku melepaskan tanganku dari tanganmu”
(13 juli 2008, Lisa’s dairy)

smoga saya bisa menyelesaikan novel ini..
BalasHapusdan teman" yang baca bisa ter insfirasi ^^