Sabtu, 15 Desember 2012


Cinta Kakak
       Di pagi Minggu itu, disaat mentari belum menampakan pesonanya dan embun yang mesih membasahi permukan dedaunan yang baru bermunculan membuat kota Bandung menjadi sangat indah. Dengan semangat yang selalu siap menyongsong hari ini dan esok hari, Panji dan Lisa telah bersedia dengan sepeda mereka masing-masing.
          “hey, Putri Kura-Kura ! Bagaimana kalau kita balapan sepeda sampai ke taman di tengah kota sana ? siapa yang kalah dia  harus mijitin yang menang.. oke ?”  seru Panji kepada Lisa. “oke.. tapi..” sebelum sempat Lisa menyelasaikan perkataannya Pajin langsung mengayuh sepedanya sekencang mungkin dan meninggalkan Lisa jauh di belakangnya. “Kak Panji curang !” teriak Lisa kesal, tetapi dia tidak berputus asa dikayuhnya sepedanya sekencang mungkin. Namun, Panji telah menghilang dan bayangannya pun sudah tak terlihat lagi oleh Lisa.
          Sesampainya ia di taman ditelusurinya setiap sudut taman berharap bisa bertemu dengan kakaknya. Tetapi Panji yang dicarinya tidak juga ditemukan. Dia melihat sebuah bangku di tengah taman dituntunnya sepedanya sembari hatinya menggerutu kesal. Duduklah ia di bangku taman itu lalu diletakannya tubuhnya yang sudah kelelahan itu. Dia memandangi langit yang ada di hadapannya “hmm indah juga ya” hatinya pun berbisik di tengah kesendiriannya itu. Ditutupnya kedua matanya perlahan-lahan, didengarnya melodi angin yang meniup tumpukan dedaunan kering di taman itu.
          Lama dia menutup matanya, tiba-tiba didengarnya sebuah lantunan musik sumbang dari sebuah Ukulele yang sudah termakan usia. Suara sumbang itu pun disusul dengan suara lainnya yang memainkan lirik-lirik yang sederhana tetapi penuh dengan semangat. Dibukanya kedua matanya, matanya terasa silau dengan sinar matahari yang mulai meninggi di pagi itu. Dan dia menganggkat tubuhnya perlahan dari tempatnya berbaring, diliahtnya seorang anak kecil memakai baju putih yang telah menghitam akibat debu jalanan. Anak itu tersenyum sembari melanjutkan nyanyiannya dengan lirik yang sederhana.
          Lisa memasukan tangannya ke saku trainingnya, dirogohnya sakunya itu dan diambilnya uang berwarna biru yang bernominal angka 50.000. Anak itu terdiam entah apa yang dipikirkannya lalu dia pun berkata kepada Lisa, “maaf mbak ini masih pagi, saya belum punya uang”. Lisa kembali mengambil uang dari dalam sakunya, ditambahkannya uang 50.000 itu dengan uang 20.000. Anak itu bingung dan kembali berkata “mbak apa semua uang itu untuk saya ?”. Lisa mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan anak itu. Anak itu pun tersenyum senang dan anak itu pun duduk disamping Lisa. Mereka mengobrolkan banyak hal. Anak itu bercerita bahwa dia adalah pengamen yang di tampung di sebuah sanggar yang bernama Sanggar Bunda, biasanya dia mengamen dengan adik perempuannya. Namun, karena sakit adiknya pun tidak bisa mengamen bersamanya. Lisa pun merasa penasaran dengan kehidupan anak itu terutaman tentang penyakit adiknya.
          “hmm.. adek apa kakak besok boleh main ke sanggar yang adek ceritakan tadi ?” tannya Lisa. “boleh..” jawab anak itu sembari tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang mungil dan berbaris rapi. Mereka pun berjanji untuk bertemu kembali di tempat yang sama untuk keesokan harinya.
          Hari yang dijanjikan pun tiba, sepulang sekolah Lisa langsung ke taman tempat dimana dia bertemu dengan anak kecil itu. Lisa duduk di bangku tempat dia berbaring kemarin sembari menunggu anak itu datang. Setengh jam ditnggunya anak itu, namun anak itu tidak juga menampakan dirinya.
          Mata lisa pun seperti bola yang mengelinding di atas tanah, diperhatikannya sekelilingnya. Dia pun tertuju ke sebuah pohon yang cukup rindang di pinggir taman. Di bawah pohon itu ada seorang pengamen yang mungkin usia pengamen itu lebih muda dibandingkan dengan anak yang dia temui di taman minggu kemarin. Lalu dipanggilnya juga pengamen itu, semula pengamen itu ragu, apakah ia yang dipanggil Lisa. Dengan sedikit keberanian pengamen itu pun beranjak dari duduknya dan perlahan ia pun berjalan mendekati Lisa.
“apa kamu tahu dimana Sanggar Bunda ?”, tannya Lisa dengan binar matanya yang berharap. Pengamen itu membalas pertannyaan Lisa dengan anggukan kepala, lalu ditariknya tangan Lisa dan jari tangan lainnya menunjuk kesebuah lorong yang cukup sempit yang berada diantara dua buah dinding gedung yang terlihat tua namun kokoh dengan sedikit lumut hijau menempel di permukaan dinding-dinding itu. Lisa yang semula bingung pun akhirnya mengikuti kemana pengamen itu membawanya.
          Sekitar lima belas menit mereka berjalan sampailah mereka di penghujung lorong. Di sana ada sebuah rumah tua yang terlihat sedikit kumuh, tiba-tiba pengamen itu melepaskan genggaman tanganya dan berlari masuk ke dalam pintu rumah itu yang terbuka lebar. Dari dalam pintu yang telihat gelap itu muncul seorang wanita yang sudah memiliki beberapa keriput di pinggir mata dan pipinya. Pengamen yang menunutunnya tadi ternyata bersembunyi di belakang rok wanita itu yang terbentang lebar.
          Wanita itu tersenyum kepada Lisa dan menegurnya dengan ramah, “ke sini nak, siapa yang kamu cari ?”. “saya mencari anak kecil yang adiknya sedang sakit keras buk”, jawab Lisa. “oh.. yang kamu maksud itu Toni”, balas wanita itu. Dengan sedikit ragu Lisa menganggukan kepalanya. Ibu itu  menceritakan perjalan kedua bersaudara itu kepada Lisa. Dulu Toni dan Alia memiliki orang tua yang kaya, hidup mereka begitu lengkap dap sempurna. Namun, ketika usia Toni 6 tahun dan Alia 5 tahun sebuah kecelakan menghampiri kehidupan mereka. Sebuah peristiwa kebakaran menipa keluarga meraka rumah mereka yang megah hangus dilalap api termasuk kedua orang tua mereka. Sanak saudara yang begitu mengagung-agungkan mereka keti orang tua mereka masih hidup pun meninggalkan mereka berdua. Sejak saat itulah Toni dan Alia menjadi pengamen. Dunia seakan-akan tidak berhenti menguji hidup mereka setahun setelah itu mereka berdua diketemukan oleh wanita pemilik sanggar dengan kondisi alia yang menderita penyakit Kanker darah. Toni pun mengamen sendrian untuk membantu biaya berobat adiknya. Dan malam tadi Alia pun dipanggil Sang Kuasa kembali kepadanya.
          Lisa pun tahu mengapa Toni tidak muncul di taman. Lisa pun menghampiri Toni yang sedang termenung sendiri di aula tengah sanggar itu. Toni yang melihat Lisa datang pun langsung memeluk Lisa dan air yang semula terbendung di mata mereka berdua pun pecah. Lisa sadar bila dia ikut menangis maka Toni akan semakin bersedih pula. “tenang sayang..”, dia berusaha menahan tangisnya sembari menenangkan diri Toni yang sedang sangat terpuruk. Lisa pun menutup matanya dan berdoa kepada Tuhan untuk menengangkan Toni.
          Sebuah alunan petikan gitar Akustik yang sangat indah tiba-tiba muncul di aula tengah yang semula sepi itu. Lisa berbalik ke belakang dan dilihat seorang laki-laki duduk di sana dengan kepala yang tertunduk, lalu sebuah syair lirik-lirik indah muncul dari mulut laki-laki itu. Anak-anak sanggar lain yang bersembunyi di balik-balik tiang penyangga dan alat-alat musik yang mulai merapuh pun mucul. Mereka ikut bernyanyi dan menari dengan riang seakan-akan ingin menghibur Toni. Senyum Toni yang sempat hilang pun akhirnya muncul kembali.
          Semua orang yang ada di sana semuanya bernyanyi, wanita tua yang menyambut Lisa pun tertawa senang melihat anak-anak asuhnya kembali ceria.
          Hari itu merupakan hari yang indah bagi Lisa. Lisa yang larut dalam suasana tersebut ikut menari dan menyanyi walau dia juga baru mengenal mereka. Lisa merasa sangat nyaman di sanggar itu.


“dairyku sayang”

“apa yang kita rasa ? disaat kita terluka”
“apa yang kita rasa ? disaat kita berduka”
“semua itu dapat kita rasakan”
“namun, apa yang kita rasa ? disaat orang lain terluka”
“dan apa yang kita rasa ? disaat orang lain berduka”
“berbagi merupakan sesuatu hal yang sangat mudah untuk dilakukan”
“akan tetapi mencari orang yang mau berbagi itu yang susah untuk didapatkan”
“akhirnya aku mengetahui apa arti dari berbagi dan aku merasa sangat beruntung karena aku bisa menemukan orang-orang yang mau saling berbagi dengan siapa pun”
                                         
      (Lisa’s dairy, 09 Agustus 2008)

Minggu, 09 Desember 2012


Mimpi
Mimpi ini.. Mimpi itu..
Mana yang kau kejar ?
Mentari di ufuk timur selalu menutup langkahmu
Lalu apa yang akan kau lakukan ?

Kau lukis jemari tanganmu di tepi pantai
Tetapi ombak selalu menghapusnya
Dan mengapa yang kau tannyakan
Kau caci takdirnya

Hingga
disaat engaku keluar dari mimpi buruk itu
Engkau pun tahu
Mimpi itu yang kau tinggalkan

Tetapi engkau pun tidak tahu
Mimpi mana yang harus engkau kejar

Nabila Rosita Yuliana ^.^



                               Sebuah Mimpi
                     di Balik Mentari

Awal Persahabatan
       “Lisa sayang...” sayup-sayup suara seorang wanita memanggil seorang anaknya yang bernama Lisa dengan diiringi suara yang ketukkan pintu, “tok.. tok.. Lisa”. Dengan mata yang masih mengantuk, gadis berusia empatbelas tahun itu pun menjawab suara yang sangat dia kenal itu, “iya ma.. Lisa bangun”. Gadis itu lalu tersadar ternyata mentari sudah tinggi dan sinar mentari pun telah mengintip dari celah gorden kamarnya. Dipandanginya sebuah cermin dihadapannya, disana kembarannya terlihat sangat berantakan. Rambut yang acak-acakan memperlihatkan betapa joroknya dirinya. Tak sadar ia terbawa suasana, hingga mamanya kembali memanggil, “Lisa.. ini sudah jam berapa sayang ? kamu mau sekolah gak ?”. Ketika  Lisa melihat jam wakker ternyata hari itu sudah ke jam 6.45, bergegas dia mengganti pakaiannya tanpa sempat membersihkan badan yang beraroma kurang sedap itu.
          Lisa memang seorang gadis yang selalu ceria dan manja. Ia di temani dengan seorang saudara laki-laki yang bernama Panji. Panji dan Lisa sangat berbeda, Panji adalah seorang anak laki-laki yang cerdas dan mandiri. Dan dia pun baru saja masuk ke sebuah perguruan tianggi yang sangat terkemuka di kota tempat meraka tinggal, yaitu kota Bandung.
          Pada pagi hari itu, di sebuah meja makan yang cukup besar dengan dihiasi beberapa piring roti dan beberapa gelas susu, Panji sedang asyik berbincang-bincang dengan mamanya sembari menyatap sarapan pagi mereka. Lisa pun datang, ia mengambil roti dan segelas susu lalu ia berlari ke arah sebuah mobil di lahaman depan rumahnya dimana  papanya sudah menunggunya untuk pergi ke sekolah.
“Mama.. Lisa pergi ya”  teriaknya,
“hati-hati Lisa..”  sahut mamanya,
Ketika matanya melihat ke arah mamanya dan dia tidak tau kakinya melangkah kemana, saat itulah dia menginjak sebuah bola milik saudarnya dan dia pun terjatuh seperti bayi yang baru belajar berjalan. Seketika roti dan susu yang awalanya ia pegang pun melayang ke atas kepalanya dan rok SMA-nya.  Suasana rumah yang semula cukup tenang pun menjadi ramai dengan suara Panji dan kedua orang tua mereka yang tertawa melihat tingkah Lisa.
          “basah, tapi aku sudah terlambat” pikirk Lisa. Tanpa berpikir lama disingkirkannya roti dan gelas yang masih tercecer itu, lalu dengan rasa kesal bercampur malu ia langsung masuk ke dalam mobil.
          “papa.. ayo pergi Lisa sudah telat nih..”, ujar sambil menahan malu “hahaha.. Lisa... Lisa”  sambut Papanya.
          Mereka pun pergi dengan sedikit tawa yang masih tersisa di raut wajah papanya Lisa. Senyum bahagia dari Panji dan mamanya mengiringi kepergian mereka.
          Setibanya di sekolah, gerbang sekolahnya pun sudah hampir ditutup dan para senior dengan raut wajah seperti hantu yang menakutkan juga sudah berdiri dipinggir gerbang. Lisa pun turun dan berjalan kearah gerbang sekolahnya, baru satu langkah dia melewati gerbang seorang senior memanggilnya, “hey.. anak baru”. Lisa terkejut, dan masa orientasi siswa baru SMA Chandra Karya  hari terakhir pun dimulai.
          Pada siang harinya, seluruh siswa baru SMA Chandra Karya termasuk Lisa dibariskan di tengah lapangan upacara. Sinar mentari yang terik di siang itu begitu membakar kulit Lisa yang sudah terlihat matang. Tiba-tiba seorang senior yang memiliki tubuh tinggi semampai dan terkenal sebagai primadona SMA Chandar Karya mendatangi barisan kelas Lisa.
“gue Merta, dan gue yang akan jadi PJ (Pembimbing Jamaah) kelas kalian”, ujarnya kepada Lisa dan teman-temannya.
Kak Merta memang siswi paling cantik di antara senior-senior yang lain, tetapi dia jugalah senior yang terbawel.  “hmm.. bosen banget sih hari ini, tadi pagi telat.. eh sekarang PJ-nya bawel pula..” keluh Lisa. Seorang gadis berparas oriental dan bertubuh sedikit mungil melihat ke arah Lisa, gadis itu bernama Kimsi Meilan. Kimsi tersenyum lalu berkata “kamu benar, PJ kita bawel.. hehehe”. Mereka pun tidak mengihiraukan apa yang terjadi di sekeliling mereka, mereka sibuk sendiri dengan percakapan yang mengasyikkan bagi mereka itu.
          Ternyata percakapan mereka berdua diperhatikan oleh kak Merta. Dia melihat dengan tatapan sinis seorang pendengki,
lalu dia pun memanggil mereka, “Lisa ! Kimsi ! kesini kalian”.
“hee.. iya kak”, jawab Kimsi
“enak ya ngobrolnya ? coba ulang ap yang kalian bicarakan tadi !”, pinta kak Merta
“yang mana kak ?”, kata Lisa
“alah.. kalian ini, baru masuk sudah banyak tingkah pula.. sekarang kalian puterin lapangan basket belakang, 10 puteran”, ujar kak Merta
“iya kak..”, sahut mereka bersama-sama
Mereka pun langsung ke lapangan basket yang memiliki ukuran cukup luas, hukuman yang di berikan kak Merta tidak bisa membuat mereka mersa bersalah atau pun menyesal. Kedua gadis itu pun berlari memutari lapangan basket sembari menertawakan wajah kak Merta yang memerah ketika menegur  mereka di lapangan upacara.
“hey Amoy”, kata Lisa kepada Kimsi
“nama aku Kimsi, Lisa.. bukan Amoy..” sahut Kimsi sembari memajukan bibirnya yang memebuat kedua matanya yang sipit itu semakin hilang.
“hahaha.. Iya Kimsi, maaf... aku  tadi bercanda kok..”, kata Lisa sambil tersenyum. Mereka terus bercanda dan berlari sampai hukuman mereka selesai.
          Hari itulah persahabatan Lisa dan Kimsi dimulai. Persahabantan yang semakin hari semakin karib. Persahabatan mereka yang kecil namun berarti, sebuah persahabatan yang akan selalu mereka jaga bersama.



“dairyku sayang”

“hari ini ku temukan seorang sahabat baru”
“namanya Kimsi Meilan, aku pun suka bersahabat dengannya”
“lalu ku katakan kepadanya”

“Wahai sahabat ! genggamlah tanganku.. dan berjanjilah”
“jangan lepaskan tanganmu dari tanganku”
“sebelum aku melepaskan tanganku dari tanganmu”
                                               

(13 juli 2008, Lisa’s dairy)