Cinta
Kakak
Di pagi Minggu itu, disaat
mentari belum menampakan pesonanya dan embun yang mesih membasahi permukan
dedaunan yang baru bermunculan membuat kota Bandung menjadi sangat indah.
Dengan semangat yang selalu siap menyongsong hari ini dan esok hari, Panji dan
Lisa telah bersedia dengan sepeda mereka masing-masing.
“hey, Putri Kura-Kura ! Bagaimana kalau kita
balapan sepeda sampai ke taman di tengah kota sana ? siapa yang kalah dia harus mijitin yang menang.. oke ?” seru Panji kepada Lisa. “oke.. tapi..” sebelum sempat Lisa menyelasaikan perkataannya Pajin
langsung mengayuh sepedanya sekencang mungkin dan meninggalkan Lisa jauh di
belakangnya. “Kak Panji curang !”
teriak Lisa kesal, tetapi dia tidak berputus asa dikayuhnya sepedanya sekencang
mungkin. Namun, Panji telah menghilang dan bayangannya pun sudah tak terlihat
lagi oleh Lisa.
Sesampainya
ia di taman ditelusurinya setiap sudut taman berharap bisa bertemu dengan
kakaknya. Tetapi Panji yang dicarinya tidak juga ditemukan. Dia melihat sebuah
bangku di tengah taman dituntunnya sepedanya sembari hatinya menggerutu kesal.
Duduklah ia di bangku taman itu lalu diletakannya tubuhnya yang sudah kelelahan
itu. Dia memandangi langit yang ada di hadapannya “hmm indah juga ya” hatinya pun berbisik di tengah kesendiriannya
itu. Ditutupnya kedua matanya perlahan-lahan, didengarnya melodi angin yang
meniup tumpukan dedaunan kering di taman itu.
Lama
dia menutup matanya, tiba-tiba didengarnya sebuah lantunan musik sumbang dari
sebuah Ukulele yang sudah termakan usia. Suara sumbang itu pun disusul dengan suara
lainnya yang memainkan lirik-lirik yang sederhana tetapi penuh dengan semangat.
Dibukanya kedua matanya, matanya terasa silau dengan sinar matahari yang mulai
meninggi di pagi itu. Dan dia menganggkat tubuhnya perlahan dari tempatnya
berbaring, diliahtnya seorang anak kecil memakai baju putih yang telah
menghitam akibat debu jalanan. Anak itu tersenyum sembari melanjutkan
nyanyiannya dengan lirik yang sederhana.
Lisa
memasukan tangannya ke saku trainingnya, dirogohnya sakunya itu dan diambilnya
uang berwarna biru yang bernominal angka 50.000. Anak itu terdiam entah apa
yang dipikirkannya lalu dia pun berkata kepada Lisa, “maaf mbak ini masih pagi, saya belum punya uang”. Lisa kembali
mengambil uang dari dalam sakunya, ditambahkannya uang 50.000 itu dengan uang
20.000. Anak itu bingung dan kembali berkata “mbak apa semua uang itu untuk saya ?”. Lisa mengangguk sebagai
jawaban atas pertanyaan anak itu. Anak itu pun tersenyum senang dan anak itu
pun duduk disamping Lisa. Mereka mengobrolkan banyak hal. Anak itu bercerita
bahwa dia adalah pengamen yang di tampung di sebuah sanggar yang bernama
Sanggar Bunda, biasanya dia mengamen dengan adik perempuannya. Namun, karena
sakit adiknya pun tidak bisa mengamen bersamanya. Lisa pun merasa penasaran
dengan kehidupan anak itu terutaman tentang penyakit adiknya.
“hmm.. adek apa kakak besok boleh main ke
sanggar yang adek ceritakan tadi ?” tannya Lisa. “boleh..” jawab anak itu sembari tersenyum lebar memperlihatkan
giginya yang mungil dan berbaris rapi. Mereka pun berjanji untuk bertemu
kembali di tempat yang sama untuk keesokan harinya.
Hari
yang dijanjikan pun tiba, sepulang sekolah Lisa langsung ke taman tempat dimana
dia bertemu dengan anak kecil itu. Lisa duduk di bangku tempat dia berbaring kemarin
sembari menunggu anak itu datang. Setengh jam ditnggunya anak itu, namun anak
itu tidak juga menampakan dirinya.
Mata
lisa pun seperti bola yang mengelinding di atas tanah, diperhatikannya
sekelilingnya. Dia pun tertuju ke sebuah pohon yang cukup rindang di pinggir
taman. Di bawah pohon itu ada seorang pengamen yang mungkin usia pengamen itu
lebih muda dibandingkan dengan anak yang dia temui di taman minggu kemarin.
Lalu dipanggilnya juga pengamen itu, semula pengamen itu ragu, apakah ia yang
dipanggil Lisa. Dengan sedikit keberanian pengamen itu pun beranjak dari
duduknya dan perlahan ia pun berjalan mendekati Lisa.
“apa
kamu tahu dimana Sanggar Bunda ?”, tannya Lisa dengan binar
matanya yang berharap. Pengamen itu membalas pertannyaan Lisa dengan anggukan
kepala, lalu ditariknya tangan Lisa dan jari tangan lainnya menunjuk kesebuah
lorong yang cukup sempit yang berada diantara dua buah dinding gedung yang
terlihat tua namun kokoh dengan sedikit lumut hijau menempel di permukaan
dinding-dinding itu. Lisa yang semula bingung pun akhirnya mengikuti kemana
pengamen itu membawanya.
Sekitar
lima belas menit mereka berjalan sampailah mereka di penghujung lorong. Di sana
ada sebuah rumah tua yang terlihat sedikit kumuh, tiba-tiba pengamen itu
melepaskan genggaman tanganya dan berlari masuk ke dalam pintu rumah itu yang
terbuka lebar. Dari dalam pintu yang telihat gelap itu muncul seorang wanita
yang sudah memiliki beberapa keriput di pinggir mata dan pipinya. Pengamen yang
menunutunnya tadi ternyata bersembunyi di belakang rok wanita itu yang
terbentang lebar.
Wanita
itu tersenyum kepada Lisa dan menegurnya dengan ramah, “ke sini nak, siapa yang kamu cari ?”. “saya mencari anak kecil yang adiknya sedang sakit keras buk”,
jawab Lisa. “oh.. yang kamu maksud itu
Toni”, balas wanita itu. Dengan sedikit ragu Lisa menganggukan kepalanya.
Ibu itu menceritakan perjalan kedua
bersaudara itu kepada Lisa. Dulu Toni dan Alia memiliki orang tua yang kaya,
hidup mereka begitu lengkap dap sempurna. Namun, ketika usia Toni 6 tahun dan
Alia 5 tahun sebuah kecelakan menghampiri kehidupan mereka. Sebuah peristiwa
kebakaran menipa keluarga meraka rumah mereka yang megah hangus dilalap api
termasuk kedua orang tua mereka. Sanak saudara yang begitu mengagung-agungkan
mereka keti orang tua mereka masih hidup pun meninggalkan mereka berdua. Sejak
saat itulah Toni dan Alia menjadi pengamen. Dunia seakan-akan tidak berhenti
menguji hidup mereka setahun setelah itu mereka berdua diketemukan oleh wanita
pemilik sanggar dengan kondisi alia yang menderita penyakit Kanker darah. Toni
pun mengamen sendrian untuk membantu biaya berobat adiknya. Dan malam tadi Alia
pun dipanggil Sang Kuasa kembali kepadanya.
Lisa
pun tahu mengapa Toni tidak muncul di taman. Lisa pun menghampiri Toni yang
sedang termenung sendiri di aula tengah sanggar itu. Toni yang melihat Lisa
datang pun langsung memeluk Lisa dan air yang semula terbendung di mata mereka
berdua pun pecah. Lisa sadar bila dia ikut menangis maka Toni akan semakin
bersedih pula. “tenang sayang..”, dia
berusaha menahan tangisnya sembari menenangkan diri Toni yang sedang sangat
terpuruk. Lisa pun menutup matanya dan berdoa kepada Tuhan untuk menengangkan
Toni.
Sebuah
alunan petikan gitar Akustik yang sangat indah tiba-tiba muncul di aula tengah
yang semula sepi itu. Lisa berbalik ke belakang dan dilihat seorang laki-laki
duduk di sana dengan kepala yang tertunduk, lalu sebuah syair lirik-lirik indah
muncul dari mulut laki-laki itu. Anak-anak sanggar lain yang bersembunyi di
balik-balik tiang penyangga dan alat-alat musik yang mulai merapuh pun mucul.
Mereka ikut bernyanyi dan menari dengan riang seakan-akan ingin menghibur Toni.
Senyum Toni yang sempat hilang pun akhirnya muncul kembali.
Semua
orang yang ada di sana semuanya bernyanyi, wanita tua yang menyambut Lisa pun
tertawa senang melihat anak-anak asuhnya kembali ceria.
Hari
itu merupakan hari yang indah bagi Lisa. Lisa yang larut dalam suasana tersebut
ikut menari dan menyanyi walau dia juga baru mengenal mereka. Lisa merasa
sangat nyaman di sanggar itu.
“dairyku sayang”
“apa yang kita rasa ? disaat kita terluka”
“apa yang kita rasa ? disaat kita berduka”
“semua itu dapat kita rasakan”
“namun, apa yang kita rasa ? disaat orang
lain terluka”
“dan apa yang kita rasa ? disaat orang lain
berduka”
“berbagi merupakan sesuatu hal yang sangat
mudah untuk dilakukan”
“akan tetapi mencari orang yang mau berbagi
itu yang susah untuk didapatkan”
“akhirnya aku mengetahui apa arti
dari berbagi dan aku merasa sangat beruntung karena aku bisa menemukan
orang-orang yang mau saling berbagi dengan siapa pun”
(Lisa’s dairy, 09 Agustus 2008)
